DAMPAK KONFLIK RUSIA DAN UKRAINA BAGI DUNIA SERTA PERAN INDONESIA
DAMPAK KONFLIK RUSIA DAN UKRAINA BAGI DUNIA SERTA PERAN INDONESIA
Ukraina merupakan pemasok gandum terbesar bagi Indonesia. Sebaliknya bagi Ukraina, Indonesia adalah negara tujuan ekspor gandum terbesar kedua di dunia setelah Mesir.
Rusia akhirnya benar-benar menyerang Ukraina. Presiden Vladimir Putin mengumumkan operasi militer secara resmi Kamis (24/2/2022).
Serangan Rusia kemudian dimulai dengan ledakan di sejumlah kota di Ukraina, termasuk Kyiv, Odessa, Kharkiv dan Mariupol. Hingga saat ini ketegangan masih berlangsung
Sebenarnya, dulu Ukraina "rapat" dengan Rusia. Namun pemimpin Ukraina yang sekarang lebih dekat ke Barat dan ingin menjadi bagian NATO.
Padahal ketika Perang Dingin terjadi, sebelum 1990, orang-orang Ukraina dan Rusia bersatu dalam sebuah negara federasi bernama Uni Soviet. Negara komunis yang kuat di zaman itu.
Uni Soviet setelah Jerman kalah dan PD II selesai, memiliki pengaruh di belahan timur Eropa. Tak heran jika negara-negara di benua Eropa bagian timur juga menjadi negara-negara komunis.
Pada 1991, Uni Soviet dan Pakta Warsawa bubar. Di tahun yang sama, Ukraina memberikan suara untuk memerdekakan diri dari Uni Soviet dalam sebuah referendum.
Presiden Rusia Boris Yeltsin pada tahun itu, menyetujui hal tersebut. Selanjutnya Rusia, Ukraina dan Belarusia membentuk Commonwealth of Independent States (CIS).
Namun perpecahan terjadi. Ukraina menganggap bahwa CIS adalah upaya Rusia untuk mengendalikan negara-negara di bawah Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet.
Pada Mei 1997, Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian persahabatan. Hal tersebut adalah upaya untuk menyelesaikan ketidaksepakatan.
Rusia diizinkan untuk mempertahankan kepemilikan mayoritas kapal di armada Laut Hitam yang berbasis di Krimea Ukraina. Rusia pun harus membayar Ukraina biaya sewa karena menggunakan Pelabuhan Sevastopol.
Hubungan Rusia dan Ukraina memanas lagi sejak 2014. Kala itu muncul revolusi menentang supremasi Rusia.
DAMPAK PERANG RUSIA DAN UKRAINA BAGI DUNIA
1. Komoditas Melambung
Harga minyak dan gas telah melonjak akibat kekhawatiran pasokan karena Rusia adalah salah satu produsen dan pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia. Minyak mentah Brent North Sea, patokan internasional, berdiri di sekitar 90 dollar AS pada Februari. Pada 7 Maret, melonjak ke 139,13 dollar AS mendekati level tertinggi 14 tahun dan harga tetap sangat fluktuatif. Harga yang naik mendorong pemerintah negara-negara di dunia mengambil langkah-langkah untuk meringankan kesulitan keuangan bagi konsumen. Mulai PPN yang lebih rendah di Swedia, batas harga di Hongaria, atau diskon di Perancis.
2. Ancaman Makanan
Sekjen PBB Antonio Guterres telah memperingatkan bahwa konflik dapat bergema jauh di luar Ukraina, menyebabkan "badai kelaparan dan kehancuran sistem pangan global". Rusia dan Ukraina adalah lumbung pangan dunia, menyumbang 30 persen dari ekspor gandum global. Harga sereal dan minyak goreng telah meningkat. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan jumlah orang yang kekurangan gizi dapat meningkat delapan hingga 13 juta orang selama tahun ini dan tahun depan.
3. Pasar Saham Terguncang
Perang telah membawa volatilitas ke pasar sementara bursa saham Moskwa ditutup selama tiga minggu dan hanya dibuka kembali sebagian pada hari Senin. Sanksi Barat telah melumpuhkan sektor perbankan dan sistem keuangan Rusia, sementara rubel telah runtuh. Langkah-langkah tersebut termasuk upaya untuk membekukan 300 miliar dollar AS cadangan mata uang asing Rusia yang disimpan di luar negeri.
4. Perusahaan Melarikan Diri
Ratusan perusahaan Barat telah menutup toko dan kantor di Rusia sejak perang dimulai. Ini karena sanksi, tekanan politik atau opini publik. Daftar tersebut mencakup nama-nama terkenal seperti Ikea, Coca-Cola dan McDonald's. Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengangkat ancaman nasionalisasi perusahaan milik asing.
5. Pertumbuhan Ekonomi Lebih Lambat
Perang mengancam akan menjadi penghambat pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid. OECD telah memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat menimbulkan pukulan satu persen pada pertumbuhan global. IMF diperkirakan akan menurunkan perkiraan pertumbuhannya, yang saat ini berada di 4,4 persen untuk tahun 2022.
DAMPAK PERANG RUSIA DAN UKRAINA BAGI INDONESIA
Rusia benar-benar menyerang Ukraina. Perang kemudian ditandai dengan ledakan di sejumlah kota di Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, Odessa, Kharkiv dan Mariupol. Meski pembicaraan damai tengah dilakukan kedua negara, gencatan senjata belum terjadi. Isu serangan Rusia ke Ukraina, sudah bergulir sejak November 2021. Sebuah citra satelit menunjukkan penumpukan baru pasukan Rusia di perbatasan dengan Ukraina. Rusia menyangkal hal tersebut. Namun santer beredar, Negeri Putin akan menyerang 16 Februari 2022. Apalagi latihan militer besar-besaran juga dilakukan, termasuk di laut dan negara tetangganya Belarusia.
Perang dapat berisiko pada kenaikan harga komoditas dari Rusia-Ukraina. Russia adalah salah satu produsen dunia minyak bumi, kalium karbonat (potash) bahan baku pupuk, dan industri pertambangan seperti nikel, alumunium dan palladium. Rusia dan Ukraina juga merupakan negara pengekspor utama gandum. Ia menambahkan, perang Rusia-Ukraina dapat berdampak pada kenaikan harga minyak bumi yang diperkirakan meningkat mencapai lebih dari $100/barrel. Sementara itu, harga bahan bakar minyak meningkat di AS dan Eropa sebesar 30%. antai pasokan global sebelumnya sudah mengalami hambatan logistik akibat COVID-19. Konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, sambungnya, berisiko memperburuk supply chain dan memicu kenaikan harga komoditas.
Perang juga membuat kerugian dan krisis perdagangan maupun ekonomi, ada beberapa negara yang justru diuntungkan. Negara penghasil emas, perak, alumunium, dan nikel seperti Indonesia mengalami kenaikan harga komoditas saat konflik Rusia-Ukraina berlangsung, negara lain penghasil minyak, gas bumi, perak, emas, nikel dan alumunium, hingga palladium juga mengalami kenaikan ini. “Untung dan rugi secara ekonomi maupun perdagangan dalam konflik Russia-Ukraina ini bukan hanya bergantung pada sisi mana kita berpihak secara politik, (ke Rusia atau Ukraina), tapi juga bergantung pada interdependensi perdagangan kita, apakah dengan jejaring dagang aliansi besar Russia ataukah aliansi Ukraina-US-EU dan juga secara khusus pada komoditas ekspor dan impor kita.
PERAN INDONESIA DALAM PERANG RUSIA-UKRAINA
Peran Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip bebas aktif, sangat diperlukan terhadap konflik antara Rusiaversus Ukraina.
Karena dalam hubungan (antar negara) luar negeri, Indonesia juga menegaskan konsistensinya dengan prinsip tersebut dalam krisis Ukraina
Sehingga Indonesiaberkesempatan memainkan perannya sebagai negara yang menganut prinsip bebas aktif dalam politik luar negerinya.
Karena itu, publik pun dapat menyimak pandangan pejabat, khususunya di Kementerian Luar Negeri dan pengamat politik internasional.
Sebagaimana telah diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin pada 24 Februari 2022 lalu memerintahkan operasi militer khusus di wilayah Ukraina
Bahkan ia sempat mengatakan kepada militer Ukraina agar mereka menjatuhkan senjata, dikutip PikiranRakyat-Depok.com dari Kantor Berita Reuters.
Pada saat itu, Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia akan langsung merespons jika ada pasukan asing yang berupaya menghalangi aksinya.

Komentar
Posting Komentar